Selasa, 12 Mei 2026

Merawat Persatuan di Tengah Perbedaan Pendapat


Di tengah kehidupan bermasyarakat yang semakin dinamis, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, pengetahuan, dan cara pandang yang berbeda dalam melihat suatu persoalan. Oleh karena itu, perbedaan bukanlah ancaman, melainkan bagian dari sunnatullah yang memperkaya kehidupan bersama. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan pendapat tidak lagi dikelola dengan kebijaksanaan, melainkan dijadikan alasan untuk saling menyalahkan, merendahkan, bahkan memutus tali persaudaraan. Dalam konteks inilah dawuh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari menjadi sangat relevan untuk direnungkan oleh seluruh elemen masyarakat.

Pesan beliau, “Jangan jadikan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan”, mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Sebuah pendapat pada hakikatnya adalah hasil pemikiran manusia yang memiliki keterbatasan. Tidak ada satu pun manusia yang berhak mengklaim dirinya paling benar hingga menafikan keberadaan orang lain. Ketika seseorang menjadikan pendapatnya sebagai alat untuk memecah belah, maka ia sedang mengedepankan ego di atas kepentingan bersama. Akibatnya, ruang dialog berubah menjadi arena pertengkaran, perbedaan berubah menjadi permusuhan, dan persaudaraan yang telah terjalin lama menjadi retak hanya karena persoalan yang sebenarnya masih bisa dibicarakan dengan kepala dingin.

Lebih jauh lagi, Hadratus Syekh mengingatkan bahwa menjadikan perbedaan pendapat sebagai sumber konflik merupakan “kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan masyarakat.” Sebuah masyarakat yang kehilangan semangat persatuan akan mudah terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling berhadapan. Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun pendidikan, ekonomi, keagamaan, dan kesejahteraan bersama justru habis untuk mempertahankan gengsi kelompok dan memperbesar perbedaan. Tidak sedikit organisasi, komunitas, bahkan bangsa yang mengalami kemunduran karena warganya lebih sibuk memperdebatkan perbedaan daripada mencari titik temu demi kemaslahatan bersama. Ketika persatuan runtuh, maka pintu-pintu kemajuan pun akan ikut tertutup.

Karena itu, sikap yang perlu dikedepankan adalah menghormati perbedaan, memperkuat budaya musyawarah, dan mengutamakan persaudaraan di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Kita dapat berbeda dalam pendapat, tetapi tetap bersatu dalam tujuan yang sama, yaitu menciptakan kehidupan yang damai, adil, dan penuh kemanfaatan. Warisan pemikiran Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari mengajarkan bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari kemampuannya memenangkan perdebatan, melainkan dari kemampuannya menjaga persatuan di tengah perbedaan. Sebab, ketika persaudaraan tetap terpelihara, maka pintu-pintu kebaikan akan terbuka dari berbagai arah, membawa keberkahan bagi masyarakat, bangsa, dan agama.

-----------
Oleh : Murdiyanto
Khadimu Dluyufur Rahman - KBIHU NU Watulimo
Share:


"Barangsiapa yang berhaji karena Allah lalu ia tidak berkata kotor (rafats) dan tidak berbuat fasik, maka ia akan kembali (bersih) seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya." (HR. Bukhari dan Muslim).


"Bersegeralah kalian melakukan haji. Sebab, seseorang tidak akan menyadari suatu halangan (penyakit, kesusahan, atau kematian) yang akan menimpanya." (HR. Ahmad).


Teruslah berjuang dan mengabdi, meski jalan tak selalu mudah. Karena dari perjuangan lahir ketangguhan, dan dari pengabdian lahir keberkahan. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap kerja sebagai amal, dan setiap pengorbanan sebagai investasi kebaikan. Kelak, waktu akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri teguh, berbuat sungguh-sungguh, dan mengabdikan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Terjemahkan

Sahabat Kita